Setidaknya terdapat sepuluh gambaran, yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an, dengan kaitannya pada penyebutan dzikir. Kesepuluh hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sebagai perintah, sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat AL-Ahzab 41-44:
ياأيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا. وسبحوه بكرة وأصيلا. هو الذي يصلي عليكم وملائكته ليخرجكم من الظلمات إلى النور وكان بالمؤمنين رحيما. تحيتهم يوم يلقونه سلام وأعد لهم أجرا كريما
"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu'min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: "salam"; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka." (Al-Ahzab, 33:41-44)
2. Larangan melupakan dzikir; sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat Al'A'raf 204:
(ولا تكن من الغافلين)
"Dan janganlah kamu termasuk golongan mereka-mereka yang melupkan Allah (tidak berdzikir)"
(Al-A'raf, 7:204)
Kemudian juga dalam surat Al-Hasyr, 59:19 :
(ولا تكون كالذين نسوا الله فأنساهم أنفسهم، أولئك هم الفاسقون)
"Dan janganlah kamu menjadi termasuk orang-orang yang melupakan Allah, maka Allah pun akan melupakan mereka."
3. Mendapatkan pujian dan surga bagi para pendzikir..Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-Ahzab, 33:35:
إن المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات والقانتين والقانتات والصادقين والصادقات والصابرين والصابرات والخاشعين والخاشعات والمتصدقين والمتصدقات والصائمين والصائمات والحافظين فروجهم والحافظات والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan
dan pahala yang besar."
4. Memiliki kaitan erat dengan kemenangan.Sebagaimanayang Allah firmankan dalam surat al-Anfal, 8:45 :
(واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون)
"…Dan berdzikirlah kalaian yang banyak kepada Allah, semoga kalian beruntung."
5. Kerugian orang yang lalai berdzikir. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-Munafiqun, 63:9 :
(يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
6. Allah menyebut mereka-mereka yang menyebut-Nya. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat al-Baqarah, 2: 152 :
(فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون)
"Maka sebutlah Aku, niscaya Aku akan menyebut kalian, dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kufur."
7. Dzikir sebagai suatu hal yang teramat besar. Sebagaimana yang Allah firmankan dalamn surat Al-Ankabut, 29:45:
(ولذكر الله أكبر)
"Dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (dari pada ibadah-ibadah lain)
8. Sebagai khatimah setiap amal shaleh. Sebagaimana yang Allah gambarkan sebagai penutup ibadah shalat, (Al-Jum'ah, 62:10):
فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون
"Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."
9. Hanya orang-orang yang berdzikirlah, yang dapat mengambil faedah ayat-ayat Allah. Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat Ali Imran, 3: 190-191:
إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب. الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka."
10. Allah menggandengkan dzikir dengan amalan-amalan shaleh lainnya, seperti dengan jihad. Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat Al-Anfal, 8: 45:
(يا أيها الذين آمنوا إذا لقيتم فئة فاثبتوا واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون)
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."
Kamis, 18 Juni 2009
KEUTAMAAN HALAQOTU DZIKR
Selain dapat dilakukan secara "sirr" maupun "jahr", dzikir pun dapat dilakukan secara fardi dan jama'i. Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai keutamaan dzikir secara jama'i, yang dilakukan dalam halaqoh-halaqoh dzikir. Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin juga mencantumkan bab khusus tentang keutamaan halaqoh dzikir (Bab ke 247), sebagaimana Imam Muslim juga mencantumkan dalam Shahehnya bab fadhl Majalis Dzikr. Bahkan jika diperhatikan dan ditadaburi, dalam Al-Qur'an pun Allah secara tersirat memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa komitmen dengan halaqoh dzikir:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِّيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بْالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengkuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi, 18:28)
Adapun dalam hadits, terdapat beberapa riwayat yang mengungkapkan keutamaan majalis dzikr, diantaranya adalah:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ ،قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ"
"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sekelompok orang duduk dan berdzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, mendapatkan limpahan rahmat, diberikan ketenangan hati, dan Allah pun akan memuji mereka pada orang yang ada di dekat-Nya." (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan:
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ :سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ مِنْ أَهْلِ الْكِرَمِ، فَقِيْلَ مَنْ أَهْلُ الْكِرَمِ يَا رَسُوْلُ اللهِ؟، قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ فِيْ الْمَسَاجِدِ. (رواه أحمد)
"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT berfirman pada hari kiamat, 'orang-orang yang berkumpul akan mengetahui siapakah mereka yang termasuk ahlul karam (orang yang mulia)', seorang sahabat bertanya, siapakah ahlul kiram ya Rasulullah SAW?, beliau menjawab, "majlis-majlis dzikir di masid-masjid." (HR. Ahmad)
Dalam hadits lain disebutkan:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا وَمَا رِياَضُ الْجَنَّةِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟،قَالَ حَلَقُ الذِّكْرِ، فَإِنَّ لِلَّهِ تَعَالىَ سَيَّارَاتٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حَلَقَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوْا بِهِمْ. (رواه أحمد والترمذي والبيهقي)
Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian melalui taman-taman surga, maka kelilingilah ia." Sahabat bertanya, "apakah taman-taman surga wahai Rasulullah SAW?", beliau menjawab, "yaitu halaqoh-halaqoh dzikir, karena sesungguhnya Allah memiliki pasukan-pasukan dari malaikat, yangmencari halaqoh-halaqoh dzikir, yang apabila mereka menjumpainya, mareka akan mengelilinginya." (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Baihaqi)
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِّيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بْالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengkuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi, 18:28)
Adapun dalam hadits, terdapat beberapa riwayat yang mengungkapkan keutamaan majalis dzikr, diantaranya adalah:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ ،قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ"
"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sekelompok orang duduk dan berdzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, mendapatkan limpahan rahmat, diberikan ketenangan hati, dan Allah pun akan memuji mereka pada orang yang ada di dekat-Nya." (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan:
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ :سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ مِنْ أَهْلِ الْكِرَمِ، فَقِيْلَ مَنْ أَهْلُ الْكِرَمِ يَا رَسُوْلُ اللهِ؟، قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ فِيْ الْمَسَاجِدِ. (رواه أحمد)
"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT berfirman pada hari kiamat, 'orang-orang yang berkumpul akan mengetahui siapakah mereka yang termasuk ahlul karam (orang yang mulia)', seorang sahabat bertanya, siapakah ahlul kiram ya Rasulullah SAW?, beliau menjawab, "majlis-majlis dzikir di masid-masjid." (HR. Ahmad)
Dalam hadits lain disebutkan:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا وَمَا رِياَضُ الْجَنَّةِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟،قَالَ حَلَقُ الذِّكْرِ، فَإِنَّ لِلَّهِ تَعَالىَ سَيَّارَاتٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حَلَقَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوْا بِهِمْ. (رواه أحمد والترمذي والبيهقي)
Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian melalui taman-taman surga, maka kelilingilah ia." Sahabat bertanya, "apakah taman-taman surga wahai Rasulullah SAW?", beliau menjawab, "yaitu halaqoh-halaqoh dzikir, karena sesungguhnya Allah memiliki pasukan-pasukan dari malaikat, yangmencari halaqoh-halaqoh dzikir, yang apabila mereka menjumpainya, mareka akan mengelilinginya." (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Baihaqi)
DZIKIR ANTARA HATI DAN LISAN
Dzikir merupakan ibadah hati dan lisan, yang tidak mengenal batasan waktu. Bahkan Allah menyifati ulil albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa menyebut Rabnya, baik dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring. Oleh karenanya dzikir bukan hanya ibadah yang bersifat lisaniah, namun juga qolbiah. Imam Nawawi menyatakan bahwa yang afdhal adalah dilakukan bersamaan di lisan dan di hati. Sekiranyapun harus salah satunya, maka dzikir hatilah yang lebih afdhal. Meskipun demikian, menghadirkan maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal yang harus diupayakan dalam dzikir. Imam Nawawi menyatakan:
المُرَادُ مِنَ الذِّكْرِ حُضُوْرُ الْقَلْبِ ، فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ هُوَ مَقْصُوْدُ الذَّاِكرِ فَيَحْرُصُ عَلَى تَحْصِيْلِهِ ،
وَيَتَدَبَّرَ مَا يَذْكُرُهُ ، وَيَتَعَقَّلَ مَعْنَاهُ…
"Yang dimaksud dengan dzikir adalah menghadirkan hati. Seyogyanya hal ini menjadi tujuan dzikir, hingga seseorang berusaha merealisasikannya dengan mentadaburi apa yang didzikirkan
dan memahmi makna yang dikandungnya…"
Dari sinilah muncul perbedaan pendapat mengenai dzikir dengan suara keras, atau dengan suara pelan. Masing-masing dari kedua pendapat ini memiliki dalil yang kuat. Dan cukuplah untuk menegahi hal ini, firman Allah dalam sebuah ayat:
قُلِ ادْعُوْا اللهَ أَوِ ادْعُوْا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوْا فَلَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا
وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً
" Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" (Al-Isra', 17:110)
Meskipun teks ayat di atas dimaksudkan pada bacaan shalat, namun ada juga riwayat lain yang menunjukkan bahwa dzikir dan doa juga termasuk yang dimaksudkannya juga.
قال ابن جرير: حدثنا يعقوب حدثنا ابن علية عن سلمة بن علقمة عن محمد بن سيرين قال: نبئت أن أبا بكر كان إذا صلى فقرأ خفض صوته وأن عمر كان يرفع صوته فقيل لأبي بكر لم تصنع هذا؟ قال أناجي ربي عز وجل وقد علم حاجتي فقيل أحسنت. وقيل لعمر لم تصنع هذا؟ قال أطرد الشيطان وأوقظ الوسنان قيل أحسنت فلما نزلت "ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا" قيل لأبي بكر ارفع شيئا وقيل لعمر اخفض شيئا
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Sirin, "bahwa Abu Bakar senantiasa mengecilkan suaranya dalam shalat, sedangkan Umar mengeraskan suaranya. Hingga suatu ketika Abu Bakar ditanya mengenai pelannya suara, beliau menjawab, "Aku bermunajat kepada Rabku, dan Allah telah mengetahui keperluanku." Sementara Umar menjawab, "Aku mengeraskannya untuk mengusir syaitan dan menghancurkan berhala." Maka tatkala turun ayat ini, dikatakan kepada Abu Bakar agar mengeraskan sedikit suaranya dan kepada Umar agar dikecilkan sedikit suaranya."
وَقَالَ أَشْعَثُ بْنُ سِوَارٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ وَهَكَذَا رَوَى الثَّوْرِيُّ وَمَالِكٌ عَنْ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أََبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ
“Asy’ast berkata dari Ikrimah dari ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun pada permasalahan doa. Demikian juga Imam Sufyan al-Tsauri dan Malik meriwyatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah ra, bahwa ayat ini turun pada permasalahan doa.”
Dan doa merupakan bagian dari dzikir. Kemudian terlepas dari "jahr" dan "sir", yang paling penting adalah bagaimana hati dan lisan tidak pernah kering dari dzikrullah.
المُرَادُ مِنَ الذِّكْرِ حُضُوْرُ الْقَلْبِ ، فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ هُوَ مَقْصُوْدُ الذَّاِكرِ فَيَحْرُصُ عَلَى تَحْصِيْلِهِ ،
وَيَتَدَبَّرَ مَا يَذْكُرُهُ ، وَيَتَعَقَّلَ مَعْنَاهُ…
"Yang dimaksud dengan dzikir adalah menghadirkan hati. Seyogyanya hal ini menjadi tujuan dzikir, hingga seseorang berusaha merealisasikannya dengan mentadaburi apa yang didzikirkan
dan memahmi makna yang dikandungnya…"
Dari sinilah muncul perbedaan pendapat mengenai dzikir dengan suara keras, atau dengan suara pelan. Masing-masing dari kedua pendapat ini memiliki dalil yang kuat. Dan cukuplah untuk menegahi hal ini, firman Allah dalam sebuah ayat:
قُلِ ادْعُوْا اللهَ أَوِ ادْعُوْا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوْا فَلَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا
وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً
" Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" (Al-Isra', 17:110)
Meskipun teks ayat di atas dimaksudkan pada bacaan shalat, namun ada juga riwayat lain yang menunjukkan bahwa dzikir dan doa juga termasuk yang dimaksudkannya juga.
قال ابن جرير: حدثنا يعقوب حدثنا ابن علية عن سلمة بن علقمة عن محمد بن سيرين قال: نبئت أن أبا بكر كان إذا صلى فقرأ خفض صوته وأن عمر كان يرفع صوته فقيل لأبي بكر لم تصنع هذا؟ قال أناجي ربي عز وجل وقد علم حاجتي فقيل أحسنت. وقيل لعمر لم تصنع هذا؟ قال أطرد الشيطان وأوقظ الوسنان قيل أحسنت فلما نزلت "ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا" قيل لأبي بكر ارفع شيئا وقيل لعمر اخفض شيئا
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Sirin, "bahwa Abu Bakar senantiasa mengecilkan suaranya dalam shalat, sedangkan Umar mengeraskan suaranya. Hingga suatu ketika Abu Bakar ditanya mengenai pelannya suara, beliau menjawab, "Aku bermunajat kepada Rabku, dan Allah telah mengetahui keperluanku." Sementara Umar menjawab, "Aku mengeraskannya untuk mengusir syaitan dan menghancurkan berhala." Maka tatkala turun ayat ini, dikatakan kepada Abu Bakar agar mengeraskan sedikit suaranya dan kepada Umar agar dikecilkan sedikit suaranya."
وَقَالَ أَشْعَثُ بْنُ سِوَارٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ وَهَكَذَا رَوَى الثَّوْرِيُّ وَمَالِكٌ عَنْ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أََبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ
“Asy’ast berkata dari Ikrimah dari ibnu Abbas, bahwa ayat ini turun pada permasalahan doa. Demikian juga Imam Sufyan al-Tsauri dan Malik meriwyatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah ra, bahwa ayat ini turun pada permasalahan doa.”
Dan doa merupakan bagian dari dzikir. Kemudian terlepas dari "jahr" dan "sir", yang paling penting adalah bagaimana hati dan lisan tidak pernah kering dari dzikrullah.
Keutamaan Dzikir
Rumah orang yang berdzikir kepada Allah adalah rumah manusia hidup, dan rumah orang yang tidak berdzikir adalah seperti rumah orang mati, atau kuburan.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dzikir merambah aspek yang luas dalam diri insan. Karena dengan dzikir, seseorang pada hakekatnya sedang berhubungan dengan Allah. Dzikir juga merupakan makanan pokok bagi hati setiap mu'min, yang jika dilupakan maka hati insan akan berubah menjadi kuburan. Dzikir juga diibaratkan seperti bangunan-bangunan suatu negri; yang tanpa dzikir, seolah sebuah negri hancur porak poranda bangunannya. Dzikir juga merupakan senjata bagi musafir untuk menumpas para perompak jalanan. Dzikirpun merupakan alat yang handal untuk memadamkan kobaran api yang membakar dan membumi hanguskan rumah insan. Demikianlah diungkapkan dalam "Tahdzib Madarijis Salikin".
Rasulullah SAW juga pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah seperti orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah sebagai orang yang mati:
عَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الذِّي يَذْكُرُ رَبَّهُ
وَالذِّي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati." (HR. Bukhari)
Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga mengumpamakannya dengan rumah. Rumah orang yang berdzikir kepada Allah adalah rumah manusia hidup, dan rumah orang yang tidak berdzikir adalah seperti rumah orang mati, atau kuburan.
Seorang mu'min yang senantiasa mengajak orang lain untuk kembali kepada Allah, akan sangat memerlukan porsi dzikrullah yang melebihi daripada porsi seorang muslim biasa. Karena pada hakekatnya, ia ingin kembali menghidupkan hati mereka yang telah mati. Namun bagaimana mungkin ia dapat mengemban amanah tersebut, manakala hatinya sendiri redup remang-remang, atau bahkan juga turut mati dan porak poranda.
URGENSI DZIKIR DALAM KEBERSIHAN HATI SEORANG DA'I
Dari sini dapat diambil satu kesimpulan bahwa tidak mungkin memisahkan dzikir dengan hati. Karena pemisahan seperti ini pada hakekatnya sama seperti pemisahan ruh dan jasad dalam diri insan. Seorang manusia sudah bukan manusia lagi manakala ruhnya sudah hengkang dari jasadnya. Dengan dzikir ini pulalah, Allah gambarkan dalam Al-Qur'an, bahwa hati dapat menjadi tenang dan tentram (13:28)
الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang."
Ketenangan bukanlah sebuah kata yang tiada makna dan hampa. Namun ketenangan memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakup kebahagian di dunia dan di akhirat. Allah SWT ketika memanggil seorang hamba untuk kembali ke haribaan-Nya guna mendapatkan keridhaan-Nya, menggunakan istilah ini:
"Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kamu pada Rabmu dalam kondisi ridha dan diridhai. Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu dalam surga-Ku." (Al-Fajr, 27-30)
Ketenagan hati juga berkaitan erat dengan kebersihan hati. Hati yang tidak bersih, tidak dapat menjadikan diri insan menjadi tenang. Bahkan penulis melihat bahwa kebersihan hatilah yang menjadi pondasi tegaknya bangunan ketenangan hati. Dan disinilah dzikir dapat mengantisipasi hati menjadi bersih, sebagaimana dzikir juga dapat menjadikan hati menjadi tenang. Dan ini pulalah letak urgensitas dzikir dalam hati seorang da'i.
Adalah suatu hal yang teramat tabu bagi seorang da'i, meninggalkan dzikir dalam setiap detik yang dilaluinya. Karena dzikir memiliki banyak keistimewaan yang teramat penting guna menjadi bekalan da'wah yang akan mereka lalui. Salah seorang salafuna saleh ada yang mengatakan, "Lisan yang tidak berdzikir adalah seperti mata yang buta, seperti telinga yang tuli dan seperti tangan yang lumpuh. Hati merupakan pintu besar Allah yang senantiasa terbuka antara hamba dan Rabnya, selama hamba tersebut tidak menguncinya sendiri." Adalah Syekh Hasan al-Basri, mengungkapkan dalam sebuah kata mutiara yang sangat indah:
تَفَقَّدُوْا الْحَلاَوَةَ فيِ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءٍ : فِي الصَّلاَةِ، وَفِي الذِّكْرِ وَفِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ…. وَإِلاَّ فَاعْلَمُوْا أَنَّ اْلبَابَ مُغْلَقٌ
"Raihlah keindahan dalam tiga hal; dalam shalat, dalam dzikir dan dalam tilawatul Qur'an, dan kalian akan mendapatkannya…. Jika tidak maka ketahuilah, bahwa pintu telah tertutup."
Inilah pentingnya dzikir bagi kebersihan hati seorang da'i. Dengan dzikir, seorang hamba akan mampu menundukkan syaitan, sebagaimana syaitan menundukkan manusia yang lupa dan lalai. Dengan dzikir pulalah, amal shaleh menjadi hidup. Dan tanpa dzikir, amal shaleh seperti jasad yang tidak memiliki ruh. Akankan aktifitas da'wah yang dilakukan da'i menjadi seperti jasad tanpa ruh?
بسم الله الرحمن الرحيم
Dzikir merambah aspek yang luas dalam diri insan. Karena dengan dzikir, seseorang pada hakekatnya sedang berhubungan dengan Allah. Dzikir juga merupakan makanan pokok bagi hati setiap mu'min, yang jika dilupakan maka hati insan akan berubah menjadi kuburan. Dzikir juga diibaratkan seperti bangunan-bangunan suatu negri; yang tanpa dzikir, seolah sebuah negri hancur porak poranda bangunannya. Dzikir juga merupakan senjata bagi musafir untuk menumpas para perompak jalanan. Dzikirpun merupakan alat yang handal untuk memadamkan kobaran api yang membakar dan membumi hanguskan rumah insan. Demikianlah diungkapkan dalam "Tahdzib Madarijis Salikin".
Rasulullah SAW juga pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah seperti orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah sebagai orang yang mati:
عَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الذِّي يَذْكُرُ رَبَّهُ
وَالذِّي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati." (HR. Bukhari)
Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga mengumpamakannya dengan rumah. Rumah orang yang berdzikir kepada Allah adalah rumah manusia hidup, dan rumah orang yang tidak berdzikir adalah seperti rumah orang mati, atau kuburan.
Seorang mu'min yang senantiasa mengajak orang lain untuk kembali kepada Allah, akan sangat memerlukan porsi dzikrullah yang melebihi daripada porsi seorang muslim biasa. Karena pada hakekatnya, ia ingin kembali menghidupkan hati mereka yang telah mati. Namun bagaimana mungkin ia dapat mengemban amanah tersebut, manakala hatinya sendiri redup remang-remang, atau bahkan juga turut mati dan porak poranda.
URGENSI DZIKIR DALAM KEBERSIHAN HATI SEORANG DA'I
Dari sini dapat diambil satu kesimpulan bahwa tidak mungkin memisahkan dzikir dengan hati. Karena pemisahan seperti ini pada hakekatnya sama seperti pemisahan ruh dan jasad dalam diri insan. Seorang manusia sudah bukan manusia lagi manakala ruhnya sudah hengkang dari jasadnya. Dengan dzikir ini pulalah, Allah gambarkan dalam Al-Qur'an, bahwa hati dapat menjadi tenang dan tentram (13:28)
الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang."
Ketenangan bukanlah sebuah kata yang tiada makna dan hampa. Namun ketenangan memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakup kebahagian di dunia dan di akhirat. Allah SWT ketika memanggil seorang hamba untuk kembali ke haribaan-Nya guna mendapatkan keridhaan-Nya, menggunakan istilah ini:
"Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kamu pada Rabmu dalam kondisi ridha dan diridhai. Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu dalam surga-Ku." (Al-Fajr, 27-30)
Ketenagan hati juga berkaitan erat dengan kebersihan hati. Hati yang tidak bersih, tidak dapat menjadikan diri insan menjadi tenang. Bahkan penulis melihat bahwa kebersihan hatilah yang menjadi pondasi tegaknya bangunan ketenangan hati. Dan disinilah dzikir dapat mengantisipasi hati menjadi bersih, sebagaimana dzikir juga dapat menjadikan hati menjadi tenang. Dan ini pulalah letak urgensitas dzikir dalam hati seorang da'i.
Adalah suatu hal yang teramat tabu bagi seorang da'i, meninggalkan dzikir dalam setiap detik yang dilaluinya. Karena dzikir memiliki banyak keistimewaan yang teramat penting guna menjadi bekalan da'wah yang akan mereka lalui. Salah seorang salafuna saleh ada yang mengatakan, "Lisan yang tidak berdzikir adalah seperti mata yang buta, seperti telinga yang tuli dan seperti tangan yang lumpuh. Hati merupakan pintu besar Allah yang senantiasa terbuka antara hamba dan Rabnya, selama hamba tersebut tidak menguncinya sendiri." Adalah Syekh Hasan al-Basri, mengungkapkan dalam sebuah kata mutiara yang sangat indah:
تَفَقَّدُوْا الْحَلاَوَةَ فيِ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءٍ : فِي الصَّلاَةِ، وَفِي الذِّكْرِ وَفِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ…. وَإِلاَّ فَاعْلَمُوْا أَنَّ اْلبَابَ مُغْلَقٌ
"Raihlah keindahan dalam tiga hal; dalam shalat, dalam dzikir dan dalam tilawatul Qur'an, dan kalian akan mendapatkannya…. Jika tidak maka ketahuilah, bahwa pintu telah tertutup."
Inilah pentingnya dzikir bagi kebersihan hati seorang da'i. Dengan dzikir, seorang hamba akan mampu menundukkan syaitan, sebagaimana syaitan menundukkan manusia yang lupa dan lalai. Dengan dzikir pulalah, amal shaleh menjadi hidup. Dan tanpa dzikir, amal shaleh seperti jasad yang tidak memiliki ruh. Akankan aktifitas da'wah yang dilakukan da'i menjadi seperti jasad tanpa ruh?
Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah mengandung tiga pokok bahasan utama yang sekaligus merupakan pokok bahasa dalam kajian Islam, yaitu :
1. Aqidah (Tauhid).
2. Syari’ah .
3. Muamalah.
1.Aqidah (Iman Dengan Allah & Hari Pembalasan)
Al-Fatihah menanamkan keimanan dengan Allah dengan memperkenalkan tiga macam tauhid :
- Tauhid Rububiyah : Meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ( Ayat 2 ).
- Tauhid Asma’ & Sifat : Meyakini bahwa hanya Allah saja yang maha sempurna dalam segnap asma dan sifatnya. ( Ayat 1 & 3 ).
- Tauhid Uluhiyah : Meyakini bahwa hanya kepada Allah saja mengabdikan diri ( Ayat 5 ).
Surat al-Fatihah juga menanamkan keyakinan dengan hari pembalasan ( Ayat 4 )
2. Syari’ah .
Al-Fatihah membahas tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah SWT, untuk mendapatkan keridhaan-Nya.( Ayat 5 )
3. Mu’amalah.
Al-Fatihah membahas juga tentang tatacara hubungan sesama manusia agar tercapai kehidupan yang bahagia penuh kenikmatan, dan terhindar dari kemurkaan Allah serta jauh dari kesesatan.( Ayat 7 ).
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Ayat yang pertama turun kepada Rasulullah SAW. Adalah : ( إقرأ باسم ربك ) “Bacalah dengan nama Tuahanmu!, yang mengandung makna agar Rasulullah SAW memulai menyampaikan wahyu kepada umatnya dengan menyebut nama-Nya. Untuk mengamalkan perintah Allah tsb. maka setiap awal surat yang disampaikan Rasulullah SAW, selain surat At-Taubah senantiasa diawali dengan menyebut “Basmalah” .
Dengan menyebut “Basmalah” pada setiap awal surat memberikan suatu pengertian bahwa wahyu yang disampaikan Rasulullah SAW. itu bukan dari dan atas kemauan Rasulullah SAW pribadi, akan tetapi ia berasal dari Allah SWT, dan atas perintah-Nya serta mengharapkan keridhaan dan keberkahan-Nya.
Sejalan dengan itu pula maka Rasulullah mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa memulai setiap pekerjaan dengan menyebut nama Allah agar pekerjaan tersebut mendapatkan berkah dan ridha Allah SWT. Sebaliknya apabila tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka pekerjaan itu akan sia-sia. Sabda Rasulullah SAW :
عن أبى هريرة رضى الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كل أمرذى بال لا يبدأفيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع (رواه أبو داود)
Artinya: Menurut keterangan Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW, pernah bersabda : ”Setiap perbuatan yang mengandung arti apabila tidak dimulai dengan “Basmalah” maka akan terputus berkatnya (tidak berhasil dengan baik)” ( H.R. Abu Daud ).
Ungkapan ( بسم الله) mengandung makna tersirat : Aku mulai, atau aku baca dengan nama Allah…; dengan demikian kalimat tersebut merupakan suatu doa’ atau pernyataan bahwa pekerjaan itu kita mulai dengan nama Allah, atau atas perintah Allah untuk mengharapkan ridha dan keberkahan daripada Allah SWT, serta terhindar dari hal-hal yang akan merusak pekerjaan tersebut atau merusak hati pelaku perjaan tersebut karena dorongan hawa nafsu dan gangguan syetan dan jin ataupun manusia yang mempunyai niat yang buruk.
الرحمن الرحيم
adalah dua nama dan sifat Allah yang terambil dari akar kata ( الرحمة) yang biasa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan “ Rahmat ”. Arti keduanya secara umum adalah : “Yang mempunyai rahmat yang melimpah ruah dan senantiasa melimpahkan rahmat-Nya itu kepada makhluk-Nya dengan penuh kasih sayang. Semua nikmat yang ada didunia ini berasal dari limpahan rahmat-Nya yang tidak akan pernah kering dan habis itu.
Secara rinci ada ulama yang menafsirkan الرحمن dengan : ”Sifat kasih sayang yang senantiasa tercurah, sedangkan الرحيم adalah aplikasi dari sifat tersebut, yaitu dengan segala kepemurahan-Nya Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya . Sebaliknya ada pula yang menafsirkan kebalikan dari itu, yaitu الرحمن Adalah : Yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada makhlukNya tanpa pilih kasih. Apakah orang itu kafir atau muslim, apakah orang itu bersyukur atau kufur, apakah orang itu mukmin atau munafiq, semua diberi-Nya limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tidak akan pernah habis, karena itu biasa diterjemahkan dengan : Yang Maha Pemurah. Sedangkan الرحيم adalah sifat kasih sayang yang khusus diberikan kepada orang-orang yang beriman, baik didunia maupun diakhirat sebagaimana firman-Nya adaalam Surat Al-Ahzab ayat 43 :
(وكان بالمؤمنين رحيما )
artinya: “Allah itu Maha Penyayang terhadap orang yang beriman (QS.33:43).
Dengan membaca dan meyakini sepenuhnya bahwa semua nikmat yang ada didunia ini adalah milik Allah SWT, yang berasal dari limpahan Rahmat-Nya yang tidak putus putusnya dan meyakini pula bahwa Allah SWT, sangat pemurah untuk mencurahkan rahmat dan karunia-Nya maka timbullah pengharapan yang penuh dan optimis terhadap limpahan rahmat-Nya , sebaliknya dengan menyadari kelemahan kita sebagai manusia yang tidak akan mendapatkan kebutuhan hidup lahir dan bathin selain hanya dari Allah SWT yang Maha Rahman dan Rahim, maka akan timbullah rasa ketergantrungan kita kepada Allah dalam segala hal , dan sekaligus hilang pulalah rasa ketergantungan kita kepada siapapun selain Allah SWT.
Rasa ketergantungan dan penuh harapan kepada Allah SWT, dalam segala hal itu merupakan cikal tauhid yang tumbuh dalam diri seorang mukmin yang selanjutnya akan membuahkan pengabdian kepada Allah SWT, dengan melakukan ibadah dan mua’amalah, aktifitas kehidupan yang dirdhai Allah dengan penuh keikhlasan dan kecintaan mengharapkan keredhaan Allah SWT Yang Maha Rahman dan Rahim.
Mengucapkan dan merenungkan makna “Rahman & Rahim” selanjutnya juga akan menimbulkan rasa malu untuk melakukan kemaksiatan atau pendurhakaan kepada Allah SWT, yang senantiasa dan tidak putus-putusnya melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan apapun dari hamba-Nya selain kebahagiaan hamba-Nya itu sendiri dalam kehidupan dunia dan akhirat.
1. Aqidah (Tauhid).
2. Syari’ah .
3. Muamalah.
1.Aqidah (Iman Dengan Allah & Hari Pembalasan)
Al-Fatihah menanamkan keimanan dengan Allah dengan memperkenalkan tiga macam tauhid :
- Tauhid Rububiyah : Meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ( Ayat 2 ).
- Tauhid Asma’ & Sifat : Meyakini bahwa hanya Allah saja yang maha sempurna dalam segnap asma dan sifatnya. ( Ayat 1 & 3 ).
- Tauhid Uluhiyah : Meyakini bahwa hanya kepada Allah saja mengabdikan diri ( Ayat 5 ).
Surat al-Fatihah juga menanamkan keyakinan dengan hari pembalasan ( Ayat 4 )
2. Syari’ah .
Al-Fatihah membahas tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah SWT, untuk mendapatkan keridhaan-Nya.( Ayat 5 )
3. Mu’amalah.
Al-Fatihah membahas juga tentang tatacara hubungan sesama manusia agar tercapai kehidupan yang bahagia penuh kenikmatan, dan terhindar dari kemurkaan Allah serta jauh dari kesesatan.( Ayat 7 ).
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Ayat yang pertama turun kepada Rasulullah SAW. Adalah : ( إقرأ باسم ربك ) “Bacalah dengan nama Tuahanmu!, yang mengandung makna agar Rasulullah SAW memulai menyampaikan wahyu kepada umatnya dengan menyebut nama-Nya. Untuk mengamalkan perintah Allah tsb. maka setiap awal surat yang disampaikan Rasulullah SAW, selain surat At-Taubah senantiasa diawali dengan menyebut “Basmalah” .
Dengan menyebut “Basmalah” pada setiap awal surat memberikan suatu pengertian bahwa wahyu yang disampaikan Rasulullah SAW. itu bukan dari dan atas kemauan Rasulullah SAW pribadi, akan tetapi ia berasal dari Allah SWT, dan atas perintah-Nya serta mengharapkan keridhaan dan keberkahan-Nya.
Sejalan dengan itu pula maka Rasulullah mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa memulai setiap pekerjaan dengan menyebut nama Allah agar pekerjaan tersebut mendapatkan berkah dan ridha Allah SWT. Sebaliknya apabila tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka pekerjaan itu akan sia-sia. Sabda Rasulullah SAW :
عن أبى هريرة رضى الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كل أمرذى بال لا يبدأفيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع (رواه أبو داود)
Artinya: Menurut keterangan Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW, pernah bersabda : ”Setiap perbuatan yang mengandung arti apabila tidak dimulai dengan “Basmalah” maka akan terputus berkatnya (tidak berhasil dengan baik)” ( H.R. Abu Daud ).
Ungkapan ( بسم الله) mengandung makna tersirat : Aku mulai, atau aku baca dengan nama Allah…; dengan demikian kalimat tersebut merupakan suatu doa’ atau pernyataan bahwa pekerjaan itu kita mulai dengan nama Allah, atau atas perintah Allah untuk mengharapkan ridha dan keberkahan daripada Allah SWT, serta terhindar dari hal-hal yang akan merusak pekerjaan tersebut atau merusak hati pelaku perjaan tersebut karena dorongan hawa nafsu dan gangguan syetan dan jin ataupun manusia yang mempunyai niat yang buruk.
الرحمن الرحيم
adalah dua nama dan sifat Allah yang terambil dari akar kata ( الرحمة) yang biasa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan “ Rahmat ”. Arti keduanya secara umum adalah : “Yang mempunyai rahmat yang melimpah ruah dan senantiasa melimpahkan rahmat-Nya itu kepada makhluk-Nya dengan penuh kasih sayang. Semua nikmat yang ada didunia ini berasal dari limpahan rahmat-Nya yang tidak akan pernah kering dan habis itu.
Secara rinci ada ulama yang menafsirkan الرحمن dengan : ”Sifat kasih sayang yang senantiasa tercurah, sedangkan الرحيم adalah aplikasi dari sifat tersebut, yaitu dengan segala kepemurahan-Nya Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya . Sebaliknya ada pula yang menafsirkan kebalikan dari itu, yaitu الرحمن Adalah : Yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada makhlukNya tanpa pilih kasih. Apakah orang itu kafir atau muslim, apakah orang itu bersyukur atau kufur, apakah orang itu mukmin atau munafiq, semua diberi-Nya limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tidak akan pernah habis, karena itu biasa diterjemahkan dengan : Yang Maha Pemurah. Sedangkan الرحيم adalah sifat kasih sayang yang khusus diberikan kepada orang-orang yang beriman, baik didunia maupun diakhirat sebagaimana firman-Nya adaalam Surat Al-Ahzab ayat 43 :
(وكان بالمؤمنين رحيما )
artinya: “Allah itu Maha Penyayang terhadap orang yang beriman (QS.33:43).
Dengan membaca dan meyakini sepenuhnya bahwa semua nikmat yang ada didunia ini adalah milik Allah SWT, yang berasal dari limpahan Rahmat-Nya yang tidak putus putusnya dan meyakini pula bahwa Allah SWT, sangat pemurah untuk mencurahkan rahmat dan karunia-Nya maka timbullah pengharapan yang penuh dan optimis terhadap limpahan rahmat-Nya , sebaliknya dengan menyadari kelemahan kita sebagai manusia yang tidak akan mendapatkan kebutuhan hidup lahir dan bathin selain hanya dari Allah SWT yang Maha Rahman dan Rahim, maka akan timbullah rasa ketergantrungan kita kepada Allah dalam segala hal , dan sekaligus hilang pulalah rasa ketergantungan kita kepada siapapun selain Allah SWT.
Rasa ketergantungan dan penuh harapan kepada Allah SWT, dalam segala hal itu merupakan cikal tauhid yang tumbuh dalam diri seorang mukmin yang selanjutnya akan membuahkan pengabdian kepada Allah SWT, dengan melakukan ibadah dan mua’amalah, aktifitas kehidupan yang dirdhai Allah dengan penuh keikhlasan dan kecintaan mengharapkan keredhaan Allah SWT Yang Maha Rahman dan Rahim.
Mengucapkan dan merenungkan makna “Rahman & Rahim” selanjutnya juga akan menimbulkan rasa malu untuk melakukan kemaksiatan atau pendurhakaan kepada Allah SWT, yang senantiasa dan tidak putus-putusnya melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan apapun dari hamba-Nya selain kebahagiaan hamba-Nya itu sendiri dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Apa yang dimaksud dengan ibadah?
Menurut bahasa Arab, ibadat (العبادة) artinya adalah (الخضوع والتذلل) Merendahkan dan menghinakan diri.(Lisanul arab 3:221) ),(الطاعة) Tunduk dan patuh secara mutlaq.(As-Shihah 408).
Menurut istilah, ibadat adalah:
أسم جامع لما يحبه الله ويرضاه,قولا أوفعلا,ظاهرا أوباطنا (إبن تيمية العبودية:4)
Ibadah adalah segenap aktifitas kehidupan yang yang dilakukan (dengan cara dan tujuan) yang diredhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan, baik lahir maupun bathin.(Ibnu Taimiyah, al-‘Ubudiyah :4)
Dari denifisi yang dikemukakan Ibnu Taimiyah diatas dapat kita fahami bahwa ibadah itu mencakup segenap aspek kehidupan manusia. Apa saja yang kita kerjakan asal dikerjakan dengan cara dan tujuan yang diredhai Allah akan mempunyai nilai ibadat dihadapan Allah swt.
Pembahagian Ibadah.
Secara garis besarnya para ulama membagi ibadah kepada dua macam :
Pertama : Ibadah Mahdhah (Ubudiyah)
Kedua : Mu’amalah.
Pertama : Ibadah Mahdhah (Ubudiyah)
Ibadah mahdhah adalah ibadalah ritual dalam arti yang sempit dan terbatas; yaitu ibadat yang merupakan syi’ar agama yang telah diatur oleh syari’at aturan pelaksanaannya secara rinci dan ketat, tidak boleh dirobah sedikitpun; umpamanya shalat, puasa, zakat, haji dan umrah dll. Perinsip dasar dalam ibadat mahdhah ialah: Tidak boleh dikerjakan kecuali yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul SAW
Ibadah mahdhah merupakan pelatihan (diklat) pengabdian kepada Allah dalam bentuk yang terbatas untuk diaplikasikan dalam kehidupan yang tidak terbatas sehingga segenap kehidupan itu mempunyai nilai ibadah yang diredhai Allah swt.
Kedua : Mu’amalah.
Mu’amalah merupakan ibadah dalam arti kata yang luas, mencakup segenap aspek kehidupan manusia, terutama dalam bentuk “hablun minannas” hubungan sesama manusia dan lingkungan.Perinsip dasar dalam mu’amalah adalah : Semua boleh dilaksanakan asal tidak ada larangan Allah swt. dan Rasul saw.Umpamanya mengenai aturan makan dan minum; semua boleh dimakan dan diminum asal tidak ada laranganNya. Ayam, Kambing, Sapi dan Kerbau boleh dimakan karena tidak ada larangan memakannya. Akan tetapi Babi haram untuk dimakan karena ada laranganNya dari al-Quran dan Sunnah.Demikian juga mengenai aturan jual beli; apapun boleh anda perjual belikan asal tidak ada larangannya, umpamanya memperjual belikan sesuatu yang haram atau najis.Tidak ada aturan yang ketat dalam jual beli seperti aturan shalat, yang ada hanya aturan dasar, yaitu jangan curang atau menipu, dan jangan ada unsur riba.
Kenapa kita beribadah ?
Kita beribadah kepada Allah SWT adalah:
(1).Karena patuh dan tha’at pada perintah Allah SWT :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (القرة 21)
Wahai sekalian manusia! Beribadahlah kamu kepada Tiuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(al-Baqarah 2:21)
(2).Karena merupakan tujuan hidup manusia :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إلا لِيَعْبُدُون (الذاريات 56)
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepadaKu (adz-Dzariyat 51:56)
(3). Untuk mensyukuri nikmat Allah SWT :
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ(1)فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2) (الكوثر)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau nikmat yang banyak, maka
shalat lah untuk mensyukuri nikmat Tiuhanmu dan berkorbanlah (al-Kautsar 108:1-2)
(4). Karena merupakan fithrah manusia :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ(172)
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhan-Mu (yang akan kamu sembah)?” Mereka menjawab: Betul, (Engkau Tuhan yang kami sembah), kami menjadi saksi” (kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhn).( Al-A’raf 7:172).
(5). Karena merupakan kebutuhan pokok rohani manusia :
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ (السجدة 9)
Kemudian Dia menyempurnakan (kejadian manusia) dan meniupkan roh (ciptaan-Nya) kedalam tubuhnya.(as-Sajdah 32:9)
(6). Untuk mengharapkan keampunan Allah SWT.(mensucikan diri dari dosa) :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى(14)وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى(15) (الأعلى)
Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan dirinya (dari dosa), dan dia
Ingat kepada Tuhannya (berdzikir) dan melakukan shalat.(Al-A’la 87:14-15)
Sabda Rasulullah SAW :
عن عثمان ابن عفان رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله صلىالله عليه وسلم يقول:
مامن امرىءمسلم تحضره صلاة مكتوبة,فيحسن وضوءها وخشوعها,وركوعها إلا كانت كفارة لما قبلها من الذنوب مالم تؤت كبيرة,وذالك الدهر كله (رواه مسلم)
Utsman bin Afan r.a. berkata: Saya pernah mendengarkan Rasulullah saw.bersabda: Apabila seorang muslim mengetahui masuknya waktu shalat fardhu,lalu dia berudhuk dengan sempurna, dan shalat dengan khusyu’ demikian pula rukuknya, maka akan diampuni segenap dosanya yang telah berlalu selagi dia tidak melakukan dosa besar; demikianlah sepanjang masa (dosanya diampuni). (HR.Muslim)
(7).Karena mengharap ridha Allah dan surga :
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ(27)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً(28)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي(29)وَادْخُلِي جَنَّتِي (30) (الفجر)
27.Wahai jiwa yang tenang tenteram!
28.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diredhai (Allah swt.)
29.Maka masuklah dalam kelompok orang yang beribadah kepadaku.
30.Dan masuklah kedalam syurga-Ku. (Al-Fajr 89:27-30)
وَبَشِّرْ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ (البقرة 25)
Dan beri khabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwasanya bagi mereka telah disediakan syurga yang mengalir dibawahnya sungai. (Al-Baqarah 2:25)
Dari uraian diatas jelaslah bahwa ibadat itu sepenuhnya adalah untuk kepentingan manusia sendiri, yaitu untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat. Allah swt. sedikitpun tidak mempunyai kepentingan dari ibadat hamba-Nya.Bahkan Dia mewajibkan ibadah kepada hamba-Nya itu adalah karena cinta kasih sayangNya pada hamba tersebut agar hidup mereka tidak mengalami kesengsaraan didunia dan akhirat; ibarat seorang ibu yang menyuruh anaknya makan dan minum dengan penuh kasih sayang agar anaknya itu sehat dan selamat hidupnya, terhindar dari bahaya kelaparan.Dalam sebuah hadith qudsi Allah berfirman:”Kalaulah semua jin dan manusia, dari awal dan akhir zaman, semuanya bertaqwa kepada-ku setaqwa orang paling bertaqwa diantaramu, niscaya hal demikian itu tidaklah akan menambah kebesaran-Ku sedikitpun.” (HR.Muslim dari Abi Dzar al-Ghifariy)
Sayang sekali masih banyak manusia yang mengaku beriman masih merasakan ibadah sebagai beban yang memberati mereka padahal sebenarnya ibadah itu adalah kebutuhan hidup mereka yang asasi.
Menurut istilah, ibadat adalah:
أسم جامع لما يحبه الله ويرضاه,قولا أوفعلا,ظاهرا أوباطنا (إبن تيمية العبودية:4)
Ibadah adalah segenap aktifitas kehidupan yang yang dilakukan (dengan cara dan tujuan) yang diredhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan, baik lahir maupun bathin.(Ibnu Taimiyah, al-‘Ubudiyah :4)
Dari denifisi yang dikemukakan Ibnu Taimiyah diatas dapat kita fahami bahwa ibadah itu mencakup segenap aspek kehidupan manusia. Apa saja yang kita kerjakan asal dikerjakan dengan cara dan tujuan yang diredhai Allah akan mempunyai nilai ibadat dihadapan Allah swt.
Pembahagian Ibadah.
Secara garis besarnya para ulama membagi ibadah kepada dua macam :
Pertama : Ibadah Mahdhah (Ubudiyah)
Kedua : Mu’amalah.
Pertama : Ibadah Mahdhah (Ubudiyah)
Ibadah mahdhah adalah ibadalah ritual dalam arti yang sempit dan terbatas; yaitu ibadat yang merupakan syi’ar agama yang telah diatur oleh syari’at aturan pelaksanaannya secara rinci dan ketat, tidak boleh dirobah sedikitpun; umpamanya shalat, puasa, zakat, haji dan umrah dll. Perinsip dasar dalam ibadat mahdhah ialah: Tidak boleh dikerjakan kecuali yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul SAW
Ibadah mahdhah merupakan pelatihan (diklat) pengabdian kepada Allah dalam bentuk yang terbatas untuk diaplikasikan dalam kehidupan yang tidak terbatas sehingga segenap kehidupan itu mempunyai nilai ibadah yang diredhai Allah swt.
Kedua : Mu’amalah.
Mu’amalah merupakan ibadah dalam arti kata yang luas, mencakup segenap aspek kehidupan manusia, terutama dalam bentuk “hablun minannas” hubungan sesama manusia dan lingkungan.Perinsip dasar dalam mu’amalah adalah : Semua boleh dilaksanakan asal tidak ada larangan Allah swt. dan Rasul saw.Umpamanya mengenai aturan makan dan minum; semua boleh dimakan dan diminum asal tidak ada laranganNya. Ayam, Kambing, Sapi dan Kerbau boleh dimakan karena tidak ada larangan memakannya. Akan tetapi Babi haram untuk dimakan karena ada laranganNya dari al-Quran dan Sunnah.Demikian juga mengenai aturan jual beli; apapun boleh anda perjual belikan asal tidak ada larangannya, umpamanya memperjual belikan sesuatu yang haram atau najis.Tidak ada aturan yang ketat dalam jual beli seperti aturan shalat, yang ada hanya aturan dasar, yaitu jangan curang atau menipu, dan jangan ada unsur riba.
Kenapa kita beribadah ?
Kita beribadah kepada Allah SWT adalah:
(1).Karena patuh dan tha’at pada perintah Allah SWT :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (القرة 21)
Wahai sekalian manusia! Beribadahlah kamu kepada Tiuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(al-Baqarah 2:21)
(2).Karena merupakan tujuan hidup manusia :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إلا لِيَعْبُدُون (الذاريات 56)
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepadaKu (adz-Dzariyat 51:56)
(3). Untuk mensyukuri nikmat Allah SWT :
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ(1)فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2) (الكوثر)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau nikmat yang banyak, maka
shalat lah untuk mensyukuri nikmat Tiuhanmu dan berkorbanlah (al-Kautsar 108:1-2)
(4). Karena merupakan fithrah manusia :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ(172)
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhan-Mu (yang akan kamu sembah)?” Mereka menjawab: Betul, (Engkau Tuhan yang kami sembah), kami menjadi saksi” (kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhn).( Al-A’raf 7:172).
(5). Karena merupakan kebutuhan pokok rohani manusia :
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ (السجدة 9)
Kemudian Dia menyempurnakan (kejadian manusia) dan meniupkan roh (ciptaan-Nya) kedalam tubuhnya.(as-Sajdah 32:9)
(6). Untuk mengharapkan keampunan Allah SWT.(mensucikan diri dari dosa) :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى(14)وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى(15) (الأعلى)
Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan dirinya (dari dosa), dan dia
Ingat kepada Tuhannya (berdzikir) dan melakukan shalat.(Al-A’la 87:14-15)
Sabda Rasulullah SAW :
عن عثمان ابن عفان رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله صلىالله عليه وسلم يقول:
مامن امرىءمسلم تحضره صلاة مكتوبة,فيحسن وضوءها وخشوعها,وركوعها إلا كانت كفارة لما قبلها من الذنوب مالم تؤت كبيرة,وذالك الدهر كله (رواه مسلم)
Utsman bin Afan r.a. berkata: Saya pernah mendengarkan Rasulullah saw.bersabda: Apabila seorang muslim mengetahui masuknya waktu shalat fardhu,lalu dia berudhuk dengan sempurna, dan shalat dengan khusyu’ demikian pula rukuknya, maka akan diampuni segenap dosanya yang telah berlalu selagi dia tidak melakukan dosa besar; demikianlah sepanjang masa (dosanya diampuni). (HR.Muslim)
(7).Karena mengharap ridha Allah dan surga :
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ(27)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً(28)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي(29)وَادْخُلِي جَنَّتِي (30) (الفجر)
27.Wahai jiwa yang tenang tenteram!
28.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diredhai (Allah swt.)
29.Maka masuklah dalam kelompok orang yang beribadah kepadaku.
30.Dan masuklah kedalam syurga-Ku. (Al-Fajr 89:27-30)
وَبَشِّرْ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ (البقرة 25)
Dan beri khabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwasanya bagi mereka telah disediakan syurga yang mengalir dibawahnya sungai. (Al-Baqarah 2:25)
Dari uraian diatas jelaslah bahwa ibadat itu sepenuhnya adalah untuk kepentingan manusia sendiri, yaitu untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat. Allah swt. sedikitpun tidak mempunyai kepentingan dari ibadat hamba-Nya.Bahkan Dia mewajibkan ibadah kepada hamba-Nya itu adalah karena cinta kasih sayangNya pada hamba tersebut agar hidup mereka tidak mengalami kesengsaraan didunia dan akhirat; ibarat seorang ibu yang menyuruh anaknya makan dan minum dengan penuh kasih sayang agar anaknya itu sehat dan selamat hidupnya, terhindar dari bahaya kelaparan.Dalam sebuah hadith qudsi Allah berfirman:”Kalaulah semua jin dan manusia, dari awal dan akhir zaman, semuanya bertaqwa kepada-ku setaqwa orang paling bertaqwa diantaramu, niscaya hal demikian itu tidaklah akan menambah kebesaran-Ku sedikitpun.” (HR.Muslim dari Abi Dzar al-Ghifariy)
Sayang sekali masih banyak manusia yang mengaku beriman masih merasakan ibadah sebagai beban yang memberati mereka padahal sebenarnya ibadah itu adalah kebutuhan hidup mereka yang asasi.
Syarat-Syarat Agar Ibadat diterima Allah SWT.
Menurut Ibnu Taymiyyah ada dua syarat agar ibadat diterima oleh Allah swt. dan diridhai-Nya :
1. Niat Yang Ikhlas.
2. Ittiba’(sesuai dengan ketentuan Allah & Rasul)
1. Niat Yang Ikhlas.
Ibnu Taymiyah menekankan bahwa syarat yang paling utama agar setiap ibadat diterima Allah swt. adalah:
“ Niat yang ikhlas, hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT, saja dalam beribadat ”, kerana ibadat itu bukan hanya bentuk teknis yang lahir tanpa roh, roh ibadat itu adalah ikhlas. Apabila hati tidak ikut aktif dalam ibadat, dan tidak ikhlas kerana Allah, hanya bentuk lahir yang kosong dari roh, maka Allah akan menolak ibadat tersebut. (Ibnu.Taymiyah 1981.41).
Niat adalah sesuatu yang disembunyikan manusia dalam hatinya; jika yang disembunyikannya dalam hati itu adalah mengharapkan keredaan Allah Yang Maha Tinggi, maka dia akan mendapatkan pahala daripada Allah SWT, Jika yang disembunyikannya dalam hati itu adalah keinginan agar dilihat manusia, maka tidak dianggap sebagai niat yang ikhlas, dan dia akan mendapatkan hukuman daripada Allah swt. sebagaimana firman Allah SWT :
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ(4)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ(5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ(6)
(سورة الماعون)
4.Maka celakalah orang-orang yang shalat;
5.Yaitu mereka yang lalai dari menyempurnakan shalatya,
6.Juga bagi orang-orang yang ria dalam dalam ibadatnya.(QS. 107:5-6)
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلآ قَلِيلا(142)
Sesungguhnya orang orang munafiq itu menipu Allah, danAllah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka sebetulnya ria dengan shalatnya dihadapan manusia. dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit. (QS.3:142)
Niat yang ikhlas, semata mata mengharapkan keridhaan Allah merupakan motifasi yang menggerakkan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah SWT, sesuai dengan perintah-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (البينة 5)
Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya beribadat kepada Allah dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan agama dengan lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS.Al-Bayyinah 98: 5).
قُلْ إِنَّ صَلآتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاي وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(162)لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ(163)
162. Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk (mengharapkan keredhaan) Allah, Rabb (Tuhan) alam semesta
163. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS.Al-An’am: 162-163).
2. Ittiba’(Sesuai dengan ketentuan Allah & Rasul saw.).
Syarat yang kedua agar ibadah diterima Allah SWT, adalah : ” Sesuai dengan ketentuan Allah & Rasul SAW ”, dengan arti kata semua amal ibadah hendaklah dikerjakan sesuai dengan yang dicontohkan atau diajarkan oleh Rasulullah SAW
عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد .رواه أحمد ومسلم
Dari Aisyah r.a beliau berkata : Bersabda Rasulullah saw. ” Siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak sesuai dengan syariat kami, maka amalnya itu akan ditolak ”
(.Ahmad.3:146 & Muslim.Aqdhiah 17.).
Mengatur syari’at ibadat adalah hak Allah dan RasulNya ; kerana itu tidak seorangpun yang berhak membuat syariat selain daripada Allah dan Rasul SAW. Sebagaimana firman Allah SWT, dalam Al -Quran:
شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ ولا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ. (الشورى 13)
Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama sebagaimana telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan dan yang telah Kami wahyukan kepadamu apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (QS.Asy-Syura 42:13).
Ayat ini menjelaskan bahwa sumber asal daripada syari’at sepanjang zaman untuk semua agama (risalah) hanyalah Allah SWT.
أم لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَولا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. (الشورى 21)
Apakah mereka mempunyai sekutu (tuhan selain Allah) yang mesyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menetapkan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang pedih. (QS.Asy-Syura 42:21)
Ayat ini merupakan bantahan terhadap orang-orang kafir yang telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah swt. untuk membuat syari’at untuk mereka yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah SWT,dan tidak diizinkan Allah SWT. Karena itu maka semua ibadat dalam Islam diwajibkan agar mengambil dan meneladani Rasullullah SAW tanpa menambah, mengurangi, ataupun merobahnya sedikitpun sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
صلوا كما رأيتموني أصلي روا البخارى
Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (Bukhari.Azan 18:631).
خذوا عني منا سككم رواه النسائى
Ambillah oleh mu manasik haji daripada aku.(An-Nasai.Manasik:220).
Rasulullah juga memberikan peringatan kepada orang-orang yang melakukan bid’ah dalam ibadat dan agama:
كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلا لة (رواه أبو داود)
Setiap orang yang mengada-ada dalam agama dan ibadah , adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.(Abu Daud:4583).
ومن أحدث فى أمرنا ما ليس منه فهو رد (رواه أبواداود)
Dan siapa yang meng-ada-adakan dalam urusan agama kami, yang tidak sesuai dengan agama itu, maka dianya ditolak. ( Abu Daud:4582).
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ( مسلم عقيدة 17)
Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak sesuai dengan agama kami, maka amalnya itu ditolak”. (Muslim.Aqdiah: 17). .
Allah SWT menyuruh kita untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh RasulNya, sebagaimana firman Allah SWT :
وَمَا آتَاكُمْ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
0 (الحشر 7)
Dan apa saja yang diperintahkan oleh Rasulullah saw.kepada kamu terimalah serta amalkannlah, dan apa jua yang dilarangnya kamu melakukannya maka patuhilah larangannya.(QS.Al-Hasyr.59:7). (Ibn Taymiyah:1981:53)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Allah hanya akan menerima ibadat yang dikerjakan dengan ikhlas, semata-mata mengharapkan keredaan Allah SWT dan ibadat yang dikerjakan itu hendaklah sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, karena hanya Allah dan RasulNya yang berhak membuat dan menetapkan syari’at untuk hamba-hambaNya. Dengan demikian pula maka siapa yang menerima dan mengamalkan syari’at yang tidak berasal dari Allah SWT berarti dia telah mempersekutukan Allah SWT dalam ibadahnya.
1. Niat Yang Ikhlas.
2. Ittiba’(sesuai dengan ketentuan Allah & Rasul)
1. Niat Yang Ikhlas.
Ibnu Taymiyah menekankan bahwa syarat yang paling utama agar setiap ibadat diterima Allah swt. adalah:
“ Niat yang ikhlas, hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT, saja dalam beribadat ”, kerana ibadat itu bukan hanya bentuk teknis yang lahir tanpa roh, roh ibadat itu adalah ikhlas. Apabila hati tidak ikut aktif dalam ibadat, dan tidak ikhlas kerana Allah, hanya bentuk lahir yang kosong dari roh, maka Allah akan menolak ibadat tersebut. (Ibnu.Taymiyah 1981.41).
Niat adalah sesuatu yang disembunyikan manusia dalam hatinya; jika yang disembunyikannya dalam hati itu adalah mengharapkan keredaan Allah Yang Maha Tinggi, maka dia akan mendapatkan pahala daripada Allah SWT, Jika yang disembunyikannya dalam hati itu adalah keinginan agar dilihat manusia, maka tidak dianggap sebagai niat yang ikhlas, dan dia akan mendapatkan hukuman daripada Allah swt. sebagaimana firman Allah SWT :
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ(4)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ(5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ(6)
(سورة الماعون)
4.Maka celakalah orang-orang yang shalat;
5.Yaitu mereka yang lalai dari menyempurnakan shalatya,
6.Juga bagi orang-orang yang ria dalam dalam ibadatnya.(QS. 107:5-6)
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلآ قَلِيلا(142)
Sesungguhnya orang orang munafiq itu menipu Allah, danAllah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka sebetulnya ria dengan shalatnya dihadapan manusia. dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit. (QS.3:142)
Niat yang ikhlas, semata mata mengharapkan keridhaan Allah merupakan motifasi yang menggerakkan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah SWT, sesuai dengan perintah-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (البينة 5)
Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya beribadat kepada Allah dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan agama dengan lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS.Al-Bayyinah 98: 5).
قُلْ إِنَّ صَلآتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاي وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(162)لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ(163)
162. Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk (mengharapkan keredhaan) Allah, Rabb (Tuhan) alam semesta
163. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS.Al-An’am: 162-163).
2. Ittiba’(Sesuai dengan ketentuan Allah & Rasul saw.).
Syarat yang kedua agar ibadah diterima Allah SWT, adalah : ” Sesuai dengan ketentuan Allah & Rasul SAW ”, dengan arti kata semua amal ibadah hendaklah dikerjakan sesuai dengan yang dicontohkan atau diajarkan oleh Rasulullah SAW
عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد .رواه أحمد ومسلم
Dari Aisyah r.a beliau berkata : Bersabda Rasulullah saw. ” Siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak sesuai dengan syariat kami, maka amalnya itu akan ditolak ”
(.Ahmad.3:146 & Muslim.Aqdhiah 17.).
Mengatur syari’at ibadat adalah hak Allah dan RasulNya ; kerana itu tidak seorangpun yang berhak membuat syariat selain daripada Allah dan Rasul SAW. Sebagaimana firman Allah SWT, dalam Al -Quran:
شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ ولا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ. (الشورى 13)
Dia (Allah) telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama sebagaimana telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan dan yang telah Kami wahyukan kepadamu apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (QS.Asy-Syura 42:13).
Ayat ini menjelaskan bahwa sumber asal daripada syari’at sepanjang zaman untuk semua agama (risalah) hanyalah Allah SWT.
أم لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَولا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. (الشورى 21)
Apakah mereka mempunyai sekutu (tuhan selain Allah) yang mesyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menetapkan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang pedih. (QS.Asy-Syura 42:21)
Ayat ini merupakan bantahan terhadap orang-orang kafir yang telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah swt. untuk membuat syari’at untuk mereka yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah SWT,dan tidak diizinkan Allah SWT. Karena itu maka semua ibadat dalam Islam diwajibkan agar mengambil dan meneladani Rasullullah SAW tanpa menambah, mengurangi, ataupun merobahnya sedikitpun sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
صلوا كما رأيتموني أصلي روا البخارى
Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (Bukhari.Azan 18:631).
خذوا عني منا سككم رواه النسائى
Ambillah oleh mu manasik haji daripada aku.(An-Nasai.Manasik:220).
Rasulullah juga memberikan peringatan kepada orang-orang yang melakukan bid’ah dalam ibadat dan agama:
كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلا لة (رواه أبو داود)
Setiap orang yang mengada-ada dalam agama dan ibadah , adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.(Abu Daud:4583).
ومن أحدث فى أمرنا ما ليس منه فهو رد (رواه أبواداود)
Dan siapa yang meng-ada-adakan dalam urusan agama kami, yang tidak sesuai dengan agama itu, maka dianya ditolak. ( Abu Daud:4582).
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ( مسلم عقيدة 17)
Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak sesuai dengan agama kami, maka amalnya itu ditolak”. (Muslim.Aqdiah: 17). .
Allah SWT menyuruh kita untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh RasulNya, sebagaimana firman Allah SWT :
وَمَا آتَاكُمْ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
0 (الحشر 7)
Dan apa saja yang diperintahkan oleh Rasulullah saw.kepada kamu terimalah serta amalkannlah, dan apa jua yang dilarangnya kamu melakukannya maka patuhilah larangannya.(QS.Al-Hasyr.59:7). (Ibn Taymiyah:1981:53)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Allah hanya akan menerima ibadat yang dikerjakan dengan ikhlas, semata-mata mengharapkan keredaan Allah SWT dan ibadat yang dikerjakan itu hendaklah sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, karena hanya Allah dan RasulNya yang berhak membuat dan menetapkan syari’at untuk hamba-hambaNya. Dengan demikian pula maka siapa yang menerima dan mengamalkan syari’at yang tidak berasal dari Allah SWT berarti dia telah mempersekutukan Allah SWT dalam ibadahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
