Kamis, 18 Juni 2009

Apa yang dimaksud dengan ibadah?

Menurut bahasa Arab, ibadat (العبادة) artinya adalah (الخضوع والتذلل) Merendahkan dan menghinakan diri.(Lisanul arab 3:221) ),(الطاعة) Tunduk dan patuh secara mutlaq.(As-Shihah 408).

Menurut istilah, ibadat adalah:

أسم جامع لما يحبه الله ويرضاه,قولا أوفعلا,ظاهرا أوباطنا (إبن تيمية العبودية:4)

Ibadah adalah segenap aktifitas kehidupan yang yang dilakukan (dengan cara dan tujuan) yang diredhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan, baik lahir maupun bathin.(Ibnu Taimiyah, al-‘Ubudiyah :4)


Dari denifisi yang dikemukakan Ibnu Taimiyah diatas dapat kita fahami bahwa ibadah itu mencakup segenap aspek kehidupan manusia. Apa saja yang kita kerjakan asal dikerjakan dengan cara dan tujuan yang diredhai Allah akan mempunyai nilai ibadat dihadapan Allah swt.

Pembahagian Ibadah.

Secara garis besarnya para ulama membagi ibadah kepada dua macam :

Pertama : Ibadah Mahdhah (Ubudiyah)
Kedua : Mu’amalah.

Pertama : Ibadah Mahdhah (Ubudiyah)

Ibadah mahdhah adalah ibadalah ritual dalam arti yang sempit dan terbatas; yaitu ibadat yang merupakan syi’ar agama yang telah diatur oleh syari’at aturan pelaksanaannya secara rinci dan ketat, tidak boleh dirobah sedikitpun; umpamanya shalat, puasa, zakat, haji dan umrah dll. Perinsip dasar dalam ibadat mahdhah ialah: Tidak boleh dikerjakan kecuali yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul SAW

Ibadah mahdhah merupakan pelatihan (diklat) pengabdian kepada Allah dalam bentuk yang terbatas untuk diaplikasikan dalam kehidupan yang tidak terbatas sehingga segenap kehidupan itu mempunyai nilai ibadah yang diredhai Allah swt.
Kedua : Mu’amalah.

Mu’amalah merupakan ibadah dalam arti kata yang luas, mencakup segenap aspek kehidupan manusia, terutama dalam bentuk “hablun minannas” hubungan sesama manusia dan lingkungan.Perinsip dasar dalam mu’amalah adalah : Semua boleh dilaksanakan asal tidak ada larangan Allah swt. dan Rasul saw.Umpamanya mengenai aturan makan dan minum; semua boleh dimakan dan diminum asal tidak ada laranganNya. Ayam, Kambing, Sapi dan Kerbau boleh dimakan karena tidak ada larangan memakannya. Akan tetapi Babi haram untuk dimakan karena ada laranganNya dari al-Quran dan Sunnah.Demikian juga mengenai aturan jual beli; apapun boleh anda perjual belikan asal tidak ada larangannya, umpamanya memperjual belikan sesuatu yang haram atau najis.Tidak ada aturan yang ketat dalam jual beli seperti aturan shalat, yang ada hanya aturan dasar, yaitu jangan curang atau menipu, dan jangan ada unsur riba.

Kenapa kita beribadah ?



Kita beribadah kepada Allah SWT adalah:



(1).Karena patuh dan tha’at pada perintah Allah SWT :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (القرة 21)

Wahai sekalian manusia! Beribadahlah kamu kepada Tiuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(al-Baqarah 2:21)



(2).Karena merupakan tujuan hidup manusia :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إلا لِيَعْبُدُون (الذاريات 56)

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepadaKu (adz-Dzariyat 51:56)



(3). Untuk mensyukuri nikmat Allah SWT :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ(1)فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2) (الكوثر)

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau nikmat yang banyak, maka

shalat lah untuk mensyukuri nikmat Tiuhanmu dan berkorbanlah (al-Kautsar 108:1-2)



(4). Karena merupakan fithrah manusia :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ(172)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhan-Mu (yang akan kamu sembah)?” Mereka menjawab: Betul, (Engkau Tuhan yang kami sembah), kami menjadi saksi” (kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhn).( Al-A’raf 7:172).



(5). Karena merupakan kebutuhan pokok rohani manusia :

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ (السجدة 9)

Kemudian Dia menyempurnakan (kejadian manusia) dan meniupkan roh (ciptaan-Nya) kedalam tubuhnya.(as-Sajdah 32:9)



(6). Untuk mengharapkan keampunan Allah SWT.(mensucikan diri dari dosa) :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى(14)وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى(15) (الأعلى)

Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan dirinya (dari dosa), dan dia

Ingat kepada Tuhannya (berdzikir) dan melakukan shalat.(Al-A’la 87:14-15)



Sabda Rasulullah SAW :

عن عثمان ابن عفان رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله صلىالله عليه وسلم يقول:

مامن امرىءمسلم تحضره صلاة مكتوبة,فيحسن وضوءها وخشوعها,وركوعها إلا كانت كفارة لما قبلها من الذنوب مالم تؤت كبيرة,وذالك الدهر كله (رواه مسلم)

Utsman bin Afan r.a. berkata: Saya pernah mendengarkan Rasulullah saw.bersabda: Apabila seorang muslim mengetahui masuknya waktu shalat fardhu,lalu dia berudhuk dengan sempurna, dan shalat dengan khusyu’ demikian pula rukuknya, maka akan diampuni segenap dosanya yang telah berlalu selagi dia tidak melakukan dosa besar; demikianlah sepanjang masa (dosanya diampuni). (HR.Muslim)



(7).Karena mengharap ridha Allah dan surga :

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ(27)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً(28)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي(29)وَادْخُلِي جَنَّتِي (30) (الفجر)



27.Wahai jiwa yang tenang tenteram!

28.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diredhai (Allah swt.)

29.Maka masuklah dalam kelompok orang yang beribadah kepadaku.

30.Dan masuklah kedalam syurga-Ku. (Al-Fajr 89:27-30)

وَبَشِّرْ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ (البقرة 25)

Dan beri khabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwasanya bagi mereka telah disediakan syurga yang mengalir dibawahnya sungai. (Al-Baqarah 2:25)

Dari uraian diatas jelaslah bahwa ibadat itu sepenuhnya adalah untuk kepentingan manusia sendiri, yaitu untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat. Allah swt. sedikitpun tidak mempunyai kepentingan dari ibadat hamba-Nya.Bahkan Dia mewajibkan ibadah kepada hamba-Nya itu adalah karena cinta kasih sayangNya pada hamba tersebut agar hidup mereka tidak mengalami kesengsaraan didunia dan akhirat; ibarat seorang ibu yang menyuruh anaknya makan dan minum dengan penuh kasih sayang agar anaknya itu sehat dan selamat hidupnya, terhindar dari bahaya kelaparan.Dalam sebuah hadith qudsi Allah berfirman:”Kalaulah semua jin dan manusia, dari awal dan akhir zaman, semuanya bertaqwa kepada-ku setaqwa orang paling bertaqwa diantaramu, niscaya hal demikian itu tidaklah akan menambah kebesaran-Ku sedikitpun.” (HR.Muslim dari Abi Dzar al-Ghifariy)

Sayang sekali masih banyak manusia yang mengaku beriman masih merasakan ibadah sebagai beban yang memberati mereka padahal sebenarnya ibadah itu adalah kebutuhan hidup mereka yang asasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar